Memahami Disleksia: Lebih dari Sekadar "Susah Baca"
Seringkali dicap "malas" atau "lambat" di sekolah, penyandang disleksia sebenarnya memiliki struktur otak yang unik. Disleksia adalah gangguan dalam memproses bahasa (neurobiologis) yang berdampak pada kesulitan mengenali kata, mengeja, dan menguraikan simbol (decoding).
1. Bagaimana Rasanya Menjadi Disleksia?
Simulator di atas hanyalah gambaran kasar. Pengalaman setiap penyandang berbeda-beda, namun gejala umum visual yang sering dilaporkan meliputi:
- Efek Sungai (River Effect): Spasi antar kata terlihat menyambung membentuk garis putih vertikal yang memecah konsentrasi.
- Huruf Menari (Dancing Letters): Huruf terlihat bergetar, berputar, atau melayang keluar dari barisnya.
- Pembalikan (Reversal): Huruf seperti 'b' dan 'd', atau 'p' dan 'q' sering tertukar.
2. Mitos Font Khusus (OpenDyslexic vs Arial)
Banyak yang percaya bahwa font khusus seperti OpenDyslexic adalah solusi ajaib. Namun, riset menunjukkan bahwa font standar yang bersih seperti Arial, Verdana, atau Comic Sans seringkali sama efektifnya.
Kunci utamanya bukan pada bentuk huruf yang aneh, melainkan pada Spasi (Kerning) dan kejelasan bentuk huruf yang tidak saling menumpuk.
3. Tips Aksesibilitas Kognitif (WCAG)
Sebagai pengembang web atau penulis konten, Anda bisa membantu mereka dengan prinsip sederhana:
- Hindari Rata Kanan-Kiri (Justify): Teks rata kanan-kiri menciptakan spasi yang tidak merata, memicu "efek sungai". Gunakan rata kiri (Align Left).
- Paragraf Pendek: Pecah teks panjang menjadi paragraf-paragraf kecil. Dinding teks (Wall of Text) adalah musuh utama disleksia.
Ingin Website Anda Ramah Kognitif?
Aksesibilitas bukan hanya untuk tunanetra. Memastikan website mudah dipahami (Understandable) adalah salah satu dari 4 prinsip utama WCAG.
Layanan Audit Profesional kami dapat membantu Anda melakukan audit konten (Content Audit) dan User Testing untuk memastikan informasi di website Anda tersampaikan dengan efektif kepada semua orang.
Hubungi Konsultan Disabilitas.com →